Banner
Jajak Pendapat
Bagaimana pelayanan di SD Muh. Gendeng Yogyakarta?
Kurang
Cukup
Baik
  Lihat
Statistik
  Visitors : 83257 visitors
  Hits : 50399 hits
  Today : 1 users
  Online : 1 users
:: Kontak Admin ::

masbro    mbaksis
Agenda
20 October 2021
M
S
S
R
K
J
S
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6

Andina Dan Ikan Mutiara

Tanggal : 06-10-2021 14:13, dibaca 11 kali.

Andina Dan Ikan Mutiara

Hari ini Andina pergi ke pasar ikan, pasar Pasta namanya. Sudah dua hari ini ia berkeingininan membeli pakan untuk ikan-ikan peliharaanya. Maklum, semenjak pandemi korona, masyarakat terjangkit tren memlihara ikan hias, termasuk andina tentunya. Kebetualn hari ini pakan ikan nya habis, ia semenga mengajak suaminya membeli pakan ikan untuk ikan kesayanga nya.

Setelah mengendarai sepeda motor buntut keluaran tahun 2004, Andina ditemani suaminya sampai di tempat tujuan.

“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga ya Mas”, ucap Andina.

“Iya, Din, Alahmdulillah. Ayo cepat cari pakan. Keburu tutup tokonya. Sudah pukul 5 sore ini”, Balas suaminya dengan nada tergesa-gesa.

Mereka lalu menghampiri salah satu toko di pasar Pasta.

“Bang, ada pakan ikan?” Tanya Andina

“Ada Neng, ini pakanya. Harganya satu bungkus 5.000”, jawab penjawab tokonya

Andina, dengan jiwa emak-emaknya tidak gentar menawar harga pakanya

“Kurang dikit ya bang, 3000 lah “, Tawa nya

“Sudah lah Din, segera bayar aja, kebru tutup tokonya”, Timbal suaminya

“Ya sudah lah, demi ikan kesayangku”, ucap Andina sedih

Pasangan suami istri ini segera kembali kerumah, karena hari sudah menjelang magrib. Sepanjang jalan Andina tidak henti-henti mengoceh tentang betapa sayangnya dia pada ikan peliharaanya. Dia sudah tidak sabar memberi makan ikan peliharanya itu.

Karena waktu sudah menjelang magrib, mereka berhenti sebentar di salah satu manggrib di pinggir jalan.

“Din, mampir sholat magrib dulu ya, biar tenang jalan pulang nya”, Ucap suaminya

“ Iya mas, tapi cepet ya, aku udah nggak sabar mau ketemu ikan-ikan ku”, Balas Andini

Mereka lalu mengambil air wudhu dan sholat. Sepanjang sholat Andini justru tida fokus ibadah. Batinya justru fokus memikirkan ikan-ikanya. Ia bahkan tidak wirid seperti biasa.Selepas sholat ia langsung melipat mukenanya dan sedikit berlari ke tempat parkir.

“Mas, kok kamu lama banget sih, ayo cepet kita pulang mas”

“Astagfirullah Din, ini kan jam sholat. Kenapa sih harus buru-buru”, suaminya membalas dengan sedikit marah

Andini jutru cemberut sepanjang jalan. Ia merasa suaminya tidak paham bagaimana dia khawator terhadap ikan-ikanya yg sudah sehrian ini belum makan. Apalagi ia sangat sayang dengan ikan-ikanya itu. Hampir tiap hari Andini selalu memperhatikan ikan-ikan kesayanganya. I memberikan hiasan-hiasan cantik agar ikanya kerasan. Sikap suaminya yang ia anggap ketus membuat sakit hati perasaanya.

Setelah berjalan hampir setengah jam. Tiba juga meraka di rumah. Andini yang masih marah segera membuka pintu tanpa sedikitpun menyapa suaminya. Ia segera mengahmpiri ikan kesayanganya.

“Astagfirullah, Mut Mut!” teriak Andini keras.

“Ada apa Din?”, suami nya segera menghampiri

Andini menangis tersedu-sedu menghampiri suaminya.

“Mas, Mut Mut ..... “, Andini tidak sampai hati melanjutkan ucapanya.

Ia terus menangis

Suaminya segera menghampiri aquarium. Dilihatnya ikan berjeni mutiara yang dinamai Mut Mut oleh istrinya sudah terkapar dengan mata hilang sebelah. Ia lalu mearik nafas dalam-dalam. Setelah itu ia hampiri istrinya yang menangis.

“Din, sudahlah jangan terlalu bersedih. Ambil pelajaran dari kejadian ini. Kita harus ingat sedekat itu jarak kematian. Saat kita berangkat Mut Mut masih sehat. Tidak sampai dua jam kita tinggal, Allah sudah mengambil nyawanya. Begitulah gambaran Ajal kita juga Din”, Jelas  suaminya panjang lebar sembari memeluk istrinya

“Tapi mas, kenapa harus Mut Mut, kepana tidak ikan kita lainya. Mut Mut kan ikan kesayangaku Mas’, Ucap Andini sambil terus menangis

“Manusia tidak punya kuasa atas ajal Din. Ajal manusia itu sudah ditetapkan Allah. kapan dan siapa yang akan dipanggil oleh Nya sudah menjadi ketetapnya. Kita sebagai umatnya harus percaya itu. Seedih boleh Din, tapi ambil pelajaran dari kejadian ini. Apalagi sekarang dimasa pandemi, ajal bisa datang kapan saja kepada siapa saja. Tugas kita harus bersiap kapanpun Allah memanggil kita”, Imbuh suaminya

Andini masih terus menangis tanpa menjawab ucapan suaminya. Dalam hati ia menyadari kesalahanya. Bagiaman ia tergesa-gesa sholat untuk mengejar kecintaanya pada makhuk, namun ia lupa kewajibanya pada ilahi. Ucapan suaminya menyadarkanya betapa dekat ajal dengan hidup manusia. Ia bisa dapang kepada yang kita cintai kapan saja. Ia tersadar bahwa tugasnya adalah beribadah dan mencintai orang-orang terkasihnya. Karena ia tidak tahu kapan ajal akan tiba.

~SELESAI~

 



Pengirim : Andika Mulyo W
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas